10 Fakta yang Hanya Diketahui Ibu Beranak Dua, atau Lebih—Sori, Ibu Beranak Satu :D

There are some things about parenting that I did not get as a mother of only one. It was the experience of parenting two children that taught me these little truths.

*Gambar dari sini

*Gambar dari sini

Truth #1
You no longer think having one child is hard
Dealing with crying, breastfeeding, potty training, tantrum, GTM, manners, keeping the house clean, traveling, … hanya dengan satu anak yang diurus? Easy.
Well, it didn’t feel that way when you only had your first, tapi jika dibandingkan kondisi ada dua anak (atau lebih), one child was a piece of cake.

Truth #2
You no longer trust any advice from mother of one
Karena jika mereka begitu yakin pola asuhnya dapat membesarkan buah hati yang kelak berguna bagi nusa bangsa, why they’re not having another one? We all know that the world needs more good people.

Truth #3
It was mostly the child, not the parenting
When parenting only one child, banyak ibu-ibu yang ke-GR-an bila anaknya supel, suka bercerita, banyak bertanya, tidak picky eater, dll. They must be thinking that they’d done all these parenting things right.
HAHAHA.
You know that’s not true. Mostly, it’s just the character of the child, or the circumstances at the time. You can do the same things you did with the first one, tapi anak ke-2 (dan mungkin yang berikutnya) will still turn out totally different.

Truth #4
You can’t help but compare
Of course you see masing-masing anak sebagai individu berbeda and cherish every aspect of them. Tapi tetap saja, you have many moments of deja vu and you can’t help but remember how things were the same (or different) with the first.

Truth #5
You care less about anything like you used to
You no longer go on whatever online baby development site untuk mencermati milestone per bulan, kurva berat badan ideal sesuai usia, dll.
You don’t care what the books say. Ever again.

Truth #6
You know that there’s no such thing as a perfect family photo
It’s just a myth. Because getting two (or more) children to look at the camera—and smile!—at the same time adalah misi yang sulit dilakukan. You will have to take thousands of pictures untuk mendapat foto yang agak-lumayan-oke.

Truth #7
Sekitar 50% orang yang suka usil bertanya kapan mau tambah anak, will stop…
…tapi 50% sisanya will still ask you the question e-v-e-r-y-t-i-m-e they see you, tanpa peduli jumlah anak yang telah dimiliki. Lihat tabel.

tabel anak 29 may 2015Dan ironisnya, if you pregnant with number 4, inilah reaksi sebagian orang → “Buset! Memang sengaja nggak KB atau kebobolan?”

Truth #8
You know the real meaning of a noisy house
Mother of one has no friggin’ clue. Seriously.

Truth #9
You forget the rules
Not all of them, obviously…
…but well, most of them.

Truth #10
You can love another child as much as your first
You don’t have to share the love. You double it.
And no, you don’t have anak kesayangan—karena setelah melewati fase bayi yang imut nan menggemaskan, each child annoy you equally  😛


ABOUT THE AUTHOR
amelia yustianaAmelia Yustiana is a mother of two imaginative little boys. Now she’s pregnant with baby number three. She does have a husband who tolerates her random personality, but she’s not sure why. She previously worked for Jawa Pos Group and Femina Group, where she spent more than 9 years with the last position as senior editor before quitting the office job and becoming a stay at home mom.


Advertisements

23 thoughts on “10 Fakta yang Hanya Diketahui Ibu Beranak Dua, atau Lebih—Sori, Ibu Beranak Satu :D

  1. Hahahaha Truuuue Mel! Habis anak kedua lupa gue sama baca baca online atau buku2. Pokoknya selama anak pertama masih baik2 saja berarti bisa diteriskan ke anak kedua wkwkwkwk. Lagipula gak sempat hahaha

    Like

  2. Truth be told, although it’s a blessing to have a child (or 2, or 3, in this matter), many of us still lingers on the past. Yg punya 1 anak WISH they dont have one, yg punya 2 anak WISH they only have 1, sementara yg belum punya anak WISH they are still single. Well, many. I’m not saying it applies to all of us. Tp seperti main game, tiap kali naik level pasti level sebelumnya terasa easy peasy (while we cry tears and blood buat merangkak naik dari level ini hidup2), lupa bahwa di level sebelumnya pun kita nangis2 bombay, sama spt sekarang. Perhaps I’m not in a position to compare anything here, but I must say that I have a blast with 1 kid, but I don’t know if I can cope with more (I’m not like my mom, you know). That being said, good luck for 3 kids! My mom has 3 kids and she survived. I am sure you too. I heard it gets better as they grow older, Mel, when they can chat and play together like civilized people, have each other’s back and so on, and plus for you: additional 3 little men (aside from your husband, obviously), adoring you equally. 🙂

    Like

  3. Iya bagus sih tapi bahasanya itu loh bikin saya bingung baca nya kok campur aduk gitu,klo mau english ya full english aja,semula saya pikir ini ulasan dalam bahasa inggris

    Like

  4. Sebagai ibu dengan dua anak, ada satu dua point yg benar jg sih saya alami. Tapi disisi lain, menurut saya artikel ini gaya bahasanya bikin pusing. Campur aduk bahasa Indonesia dan Inggris dalam satu kalimat. Sebagai mantan senior editor di media harusnya sih penulis peka dengan hal ini. IMO 🙏

    Like

  5. Mau ikutan komen tapi belum bisa,karena anak saya baru 1 ^^
    Tapi menurut saya,gaya penulis yang menggunakan bahasa campur-campur merupakan langkah cerdas.Setiap penulis harus memiliki identitas dan ciri khas masing-masing yang menjadi pembeda dengan penulis lain.IMO,dengan bahasa campur-campur itulah penulis melakukan diferensiasi ^^
    Waktu artikel tipe-tipe ibu di medsos jadi viral,saya sempat lihat ada beberapa yang mencoba meniru dengan full bahasa indonesia,tapi malah gagal total & jadi gak lucu.
    Ini yang asli >>> https://themothertruth.com/2015/05/04/17-tipe-ibu-ibu-di-social-media-nomor-13-paling-menyebalkan-3/
    Coba bandingkan dengan penirunya >>> http://hello-pet.com/quiz?id=47208
    IMO,bahasa campur-campur justru membuat artikel lebih renyah dibaca ^^

    Like

  6. Memang isi dri artikel ini sarkasme bgt n judgemental bgt buat a mom if one child like me, but that’s ok because u’ve already said it from the begining. I’ve only one child (my adorable boy) bukannya saya ga mau py lg hy saja saya n suami sudah berusaha ya hampir 5th n uda sering trima endless questions “kok ga nambah nanti manja loh nanti egois nanti ga bs mandiri dll” n selalu juga di sepelein (bagi saya disepelein) hahaha karena cm py anak 1, ah lu mah cm py anak 1 enteng lah apa sih yg lu rempongin anak cm satu, anak satu doang apa yg di pusingin, kdg disitu saya merasa sedih (lohh^-^) saya jg kpngen anak 1lg suami n anak saya jg kpngen saya ud jatuh bgn berobat biar bs hamil lg, (kok jd curcol)
    The point is what i’ve read from this article agak menohok saya as a mom of one child yg menyebutkan saran dri ibu yg beranak satu itu ga berguna. but for all that the right of the author. Salam kenal yaa
    Thx

    Like

  7. saya tidak membahas isi tulisannya. cuma kasih saran.. tulisannya akan lebih baik dengan 1 bahasa. bahasa indonesia saja atau bahasa inggris. campur aduk begitu malah mengganggu rasa, mata & otak. selain mengganggu juga terkesan tidak menghargai bahasa indonesia.. tolong ya..kita sebagai orang tua sebaiknya memulai dari diri sendiri untuk melakukan yang baik, seperti berbahasa indonesia yang benar karena kita orang indonesia..

    Like

  8. Comments for Thruth #3. I have to kids. Not only their gender is different, their character for sure is different. So, yes, parents need to adopt and treat them according to their unique.
    Love your post !

    Like

  9. Pengalamannya bagus buat di share tp sebaiknya ga usah sok inggris2 lah…1 bahasa aja..gmn bs menarik pembaca jika bahasanya aja tidak menarik

    Like

    • Mo Campur Aduk bahasa jg Tapi ngena banget.. Somehow meskipun Campur menurut saya pribadi, representing its own meaning n idioms…
      Well said!

      Like

      • Nah, ini dia, tergantung kakak melnya mau dibaca sama emak emak indonesia abis. Emak – emak kawin sama bule. apa emang emak emak bule lagi belajar indonesia beneran, atau emang beneran pasarnya luar negeri. Sasaran pasarnya jelas gitu. Soalnya artikelnya emang oke kok.

        Like

  10. Hai Mbak Amelia 🙂

    Salam kenal ya. Saya suka dengan tulisan mbak, ringan, jujur dan nyentil 🙂 anyway, IMHO sarkasme beda dengan judgemental ya mbak.

    I am a mom of one. Truth #2 menggelitik saya 🙂 alasan untuk tidak menambah jumlah anak itu banyak mbak. Bukan hanya tentang keyakinan bahwa pola asuh yang bisa menghasilkan anak yg berguna bagi nusa dan bangsa saja, tapi banyak pertimbangan lain seperti finansial, kesiapan mental, dsb dsb. Call me too sensitive, but this time I guess you were too judgemental to moms of one 🙂

    Semoga ke depannya tulisannya bisa tetap asyik dibaca dan bikin ketawa walau nyentil tapi tanpa menghakimi ya 🙂 cheers!

    Like

  11. why mixing up bahasa & English in 1 sentence? I find it really annoying to read although u made a very good point. considering your more-than 9 years experience in professional journalism, you should’ve known better? or is it a new trend in journalism & publishing these days?

    Like

  12. Saya ibu dr seorang anak prm dgn autism syndrome,,,satu anak dgn bbagai macam karakter yg kdg dlm 1 hari bisa brubah sesuai moodnya…satu, dua, tiga dst anak terutama anak yg tdk berkebutuhan pstinya akan sangat bersyukur sekali…nikmati aja prosesnya…bersyukur itu nikmat 🙂 anak2 itu anugerah 🙂

    Like

  13. Yahhh kalo poin 2/3 atau lainnya sih mnrt aku diperuntukkan buat ibu2 yg ekstrim kali muji2 diri sendiri n jd menggurui org.
    Semua org punya cerita.. Pasti ga bisa disamain apalagi artikel cuman sehalaman.
    “We write to express, not to impress”. Masalah bahasa, kata “english”,IMO, aja udh bahasa inggris. Itu sih sejauh mana bahasa inggris mempengaruhi kehidupan kita.. Yang pasti, bagaimanapun cerita kita, kita adalah unik. Mau anak sepuluh,dua,satu,ga punya,blm punya,blm nikah, lets celebrate this life! No dizzy dizzy!!

    Like

  14. Ini untuk parents beranak dua yang masih balita kali yah… Well… Mereka yang udah hadapin anaknya tumbuh remaja dan nyari kerja pasti bisa bikin sarkasm yg oke punya- for this article 😅

    Like

  15. Seperti anak kelas 3 lg menggurui anak kelas 1. Right? Tau deh si tante udah jago ngurus anak. Judulnya anak kelas 3 ga mau dengar anak kelas 1 krn pelajaran kls 1 masih mudah. Tp urusan anak-beranak jgn terlalu dipermasalahkan. Mau 1 kek, mau 10 kek, masa sih sampai hrs ada kompetisi sapa ibu yg lbh jagoan? Mau punya 10 anak jg awalnya 1 dulu kecuali kalo lgs kembar yah. Kenapa nggak ada judul baru anak kelas 3 bantu anak kelas 1 dgn materi pelajaran mrk. Drpd nge-bully, bukankah lbh baik saling membantu?

    Like

  16. Hahaha.. Memang masalahnya ada di judul.
    10 Fakta yang Hanya Diketahui Ibu Beranak Dua, atau Lebih—Sori, Ibu Beranak Satu 😀
    Tulisan ” sori, ibu beranak satu ” memberi kesan ‘sok’ dan sombong, kesannya menggurui, sok senior, mentang2 anaknya sdh lebih dari satu. Sebenarnya kalau tdk menyindir2 ibu beranak 1, tulisan ini boleh dibilang inspiratif, walaupun msh terkesan personal. Semua berbalik kepada masing2 individu. Saya kenal ibu beranak 3 yang anak2nya jarang mandi. Segitu parahnya, anak2nya mandinya seminggu sekali, itupun dikumpulkan di bak mandi sekaligus (cowok-cewek) biar irit air dan irit sabun.
    Jadi, ya kembali ke individu masing2. Punya anak banyak tidak menjadikan anda senior. Juga utk yg baru punya anak 1 dan lagi pusing/repot2nya, blm lg ditambah baby blue, dsb, jgn berkecil hati.
    Sesama ibu dilarang bully-membully!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s