Riset Membuktikan: Semua Metode Parenting Ternyata Salah

Yup… tidak peduli a-p-a-p-u-n metode yang dipercaya dalam membesarkan anak, there’s some expert out there—pediatricians, researchers, psychologists, and other caregivers—who argues that it’s not the right way to raise a child.

parenting-book

*Gambar dari sini

There’s proof all over the internet, and it’s not even hard to find.

Melahirkan via c-section?
Berdasarkan riset Yale University, c-section mengurangi bonding antara ibu dengan anak.

Melahirkan via vaginal paling aman?
Tetot! Menurut Stanford School of Medicine, anak justru berisiko terluka saat proses kelahiran—mulai dari kulit kepala memar hingga patah tulang selangka.

Ingin mencoba metode water birth?
Anak bisa mengalami gangguan pernapasan, bahkan risiko tenggelam.

Tertarik dengan lotus birth?
Plasenta yang membusuk bisa menularkan infeksi bila tali pusat tidak segera dipotong.

Memberikan susu formula?
Really nice of you to give your child lower IQ and less effective immune system.

Menyusui eksklusif?
Your sexual desire will die. Your marriage is going to fizzle out… dan saat hubungan pernikahan hambar, ujung-ujungnya anak yang menjadi korban.

Memutuskan jadi Stay At Home Mom (SAHM) setelah anak lahir?
Penelitian Harvard Business School menyatakan anak perempuan yang dibesarkan SAHM memiliki pendapatan lebih rendah saat dewasa, sementara anak laki-lakinya akan less-caring for family.

Tetap bekerja dan menyandang gelar working mom?
Menurut studi yang di-publish Institute for Social and Economic Research, anak dari working mom cenderung bermasalah di sekolah dan menderita mental stress.

Mencoba bekerja dari rumah agar tetap bisa dekat dengan anak?
Ah, you’re fooling yourself. Hasil dari ‘menggoda’ anak dengan kehadiran fisik—but complete lack of mental presence—adalah anak merasa diabaikan.

Menggunakan popok sekali pakai?
Disposable diapers bisa menimbulkan iritasi dan infeksi pada kulit yang tertutup. Anak juga lebih sulit memulai toilet training.

Memilih popok kain dan cloth diapers?
Popok harus sering diperiksa dan diganti, termasuk saat anak tidur. It will bring discomfort.

Anak dijaga oleh babysitter?
Hmmm… You never know what’s happening behind your back at home.

Anak diasuh oleh kakek/nenek?
Grandparents are known for spoiling their grandchild. Semua aturan untuk disiplin biasanya bubar-grak di tangan mereka.

Titip anak ke daycare?
Anak lebih rentan tertular penyakit. Cacar, common cold, HFMD, … or worse.

Mengurus anak sepanjang hari tanpa dibantu siapa pun?
Wow, you must be exhausted! Do you start yelling? FYI, membentak anak punya efek sama buruknya dengan memukul anak.

Tidur sekamar dengan anak, bahkan di kasur yang sama?
Nantinya, anak akan kesulitan untuk tidur sendiri di kamarnya.

Pisah kamar dengan anak sejak lahir?
Tidur terpisah bisa menurunkan kualitas kecerdasan, kemampuan sosial, dan kesehatan anak.

Memasukkan anak ke sekolah bilingual (bahkan multilingual) sejak dini?
Perkembangan bahasa anak akan terganggu, baik dalam penggunaan kosa kata maupun struktur tata bahasa.

Bersikeras mencari sekolah yang HANYA menggunakan Bahasa Indonesia?
Menurut penelitian McGill University, anak yang tumbuh hanya dengan satu bahasa akan memiliki intelegensia dan mental flexibility lebih rendah dibanding anak yang tumbuh dengan dua bahasa.

Memilih homeschooling?
Anak akan jarang berinteraksi dengan teman sebaya, sehingga sulit mempelajari cara berkomunikasi dan bersikap dalam kelompok.

Membiarkan anak main gadget?
Anak akan terpapar radiasi, kurang interaksi dengan lingkungan, malas bermain di luar rumah, sulit konsentrasi, agresif, dan mudah tantrum.

Anti gadget?
Sekalian saja kirim anak ke zaman batu. Jika tidak dikenalkan teknologi, how to prepare your child for the future?

Mengajarkan anak membaca di usia balita?
Mental hectic. Bahkan menurut Lilian Katz, profesor dari Illinois University, nantinya anak justru bisa kehilangan minat pada buku.

Anak tidak perlu belajar membaca hingga usia 7 tahun?
Sayang sekali, masa keemasan untuk stimulasi otak anak disia-siakan.

Jarang memuji anak?
Hello, low self-esteem!

Sering memuji anak?
Pujian bisa menurunkan sense of achievement dan membuat anak jadi ragu mengambil risiko.

Memutuskan punya satu anak saja?
You run the risk of developing a self-centered streak. Anak tunggal suka menganggap diri kelewat penting, sehingga sulit menerima bila ada hal berjalan tidak sesuai kemauannya.

Membangun keluarga besar dengan banyak anak?
Siap-siap anak merasakan lack of attention, feelings of not being special, dan kurang memiliki privasi karena mesti berbagi segala hal dengan saudaranya.

Jarak usia anak berdekatan?
Sibling rivalry for sure.

Jarak usia anak berjauhan?
Sibling rivalry for sure.
That’s right. Tidak dapat dihindari selama ada lebih dari satu anak dalam keluarga.

Bertengkar dengan pasangan di hadapan anak?
Well, that sucks. Menurut penelitian Cardiff University, stabilitas emosional anak bisa terganggu.

Tidak pernah bertengkar di hadapan anak?
Nice. Now they have no example of conflict resolution.

So there you go.
Basically, you’re doing everything wrong.
Always.
Every. Single. Choice.

No matter what you’re doing, your child is getting screwed  😀

parenting-101-failed

*Gambar dari sini

Now, sit back and take a deep breath…
…shut off the damn parenting forums, ignore the mommy wars.

You’ve got child to raise.


ABOUT THE AUTHOR
amelia yustianaAmelia Yustiana is a mother of three rumbustious little boys. She studied psychology at Atma Jaya Catholic University. She does have a husband who tolerates her random personality—but she’s not sure why. She previously worked for Jawa Pos Group and Femina Group, where she spent more than 9 years with the last position as senior editor before quitting the office job and becoming a stay at home mom.


Advertisements

5 thoughts on “Riset Membuktikan: Semua Metode Parenting Ternyata Salah

  1. Yang terbaik memang kembali pada ajaran agama saja .. Semua sdh ada didlm alquran dan tidak pernah salah tidak pernah menyusahkan … Bismillah ..!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s